Pages

Rabu, 03 Februari 2016

Resensi Autumn In Paris

Novel Autumn in Paris adalah novel kedua Ilana Tan. Selain menulis, Ilana juga menikmati film, buku, dan bahasa asing. Kini ia menetap di Jakarta dan bekerja di bidang yang disukainya.
Novel ini menceritakan kisah cinta seorang pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seorang wanita menginjakkan kakinya di bandara di kota Paris setelah sekian lama ia menetap di Jepang. Mereka terus menerus bertemu tanpa sengaja, hingga akhirnya mereka berkenalan, menjadi dekat dan saling jatuh cinta. Saat mereka menyadari adanya rasa cinta diantara keduanya, mereka harus terpukul karena mengetahui kenyataan yang menyakitkan hingga mendorong salah satu diantara mereka ingin mengakhiri hidup. Kenyataan bahwa sebenarnya mereka adalah saudara kandung dan mereka tidak boleh egois karena harus melupakan rasa cinta yang ada di hati mereka.
Saya rasa novel ini benar-benar menarik, namun saya rasa akan lebih baik apabila penggunaan bahasa Perancisnya ditambah sehingga kesan Parisnya benar-benar hidup.
Novel ini unik karena memiliki ending yang benar-benar tak terduga, dan konflik yang disajikannya benar-benar membuat pembaca menjadi penasaran mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Pengarang pun sangat pandai dalam menggambarkan latar dalam cerita, sehingga pembaca dapat membayangkan bagaimana situasi dan kondisi tempat dan juga suasana yang sedang diceritakan walaupun sebenarnya pembaca tidak pernah mengunjungi tempat yang berada dalam latar tersebut yang kebanyakan berada di kota Paris. Kisah cinta yang terjadi di kota cinta membuat cerita ini benar-benar romantic dan menyentuh orang yang membacanya.
Secara keseluruhan, novel ini benar-benar layak untuk dibaca dan membuat saya menangis karena seolah-olah saya merasakan penderitaan yang dialami oleh pemeran utama novel tersebut, Tara Dupont. Dengan demikian, pengarang benar-benar berhasil dalam menyampaikan ceritanya karena dapat memunculkan kontak batin antara pembaca dengan peristiwa yang dialami oleh pemeran-pemeran dalam novel tersebut.
   
Tatsuya Fujisawa, seorang arsitek terkenal di Jepang, akhirnya harus menginjakkan kembali kakinya di kota Paris setelah sekian lama ia pergi dari kota ini. Kota yang amat sangat dibencinya. Kota dimana ia akan mencari ayah kandungnya, atas perintah dari mendiang ibunya yang sudah meninggal. Saat sedang menunggu di bandara, ia mendapati seorang gadis blasteran Asia-Eropa yang berjalan terburu-buru. Entah mengapa ia tertarik dan kemudian mengeluarkan kamera untuk mengabadikan hal tersebut. Benar-benar diluar dugaan, ternyata wanita tersebut adalah teman dari Sebastien Giraudeau, sahabat lama Tatsuya. Ia bernama Tara Dupont. Tatsuya dan Tara sering bertemu secara tidak sengaja hingga akhirnya mereka berkenalan dan menjadi dekat. Tatsuya sering meminta Tara menemaninya jalan-jalan mengelilingi kota Paris. Seringkali tanpa pengetahuan Tara, Tatsuya mengambil foto Tara saat mereka sedang jalan-jalan. Menurut Tatsuya, Tara benar-benar menarik. Tinggi semampai, hidung mancung, mata abu-abu dan kulit eksotis Asia. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka pun menjadi semakin dekat dan akhirnya saling mencintai. Walaupun ia sering pergi dengan Tara, ia tidak melupakan niat utamanya datang ke kota ini, untuk mencari ayah kandungnya, yang bernama Jean-Daniel Lemercier. Saat ia telah berhasil menemukannya, ia harus dihadapkan dengan kenyataan pahit, ternyata Jean-Daniel Lemercier adalah Jean-Daniel Dupont yang merupakan ayah kandung Tara. Keadaan menjadi sangat rumit karena rasa cintanya kepada Tara sangatlah besar namun ia tidak bisa egois dan ia harus memberitahu Tara mengenai hal ini. Namun, Tara mengetahui hal ini sebelum Tatsuya sempat memberitahunya dan Tara depresi hingga ingin bunuh diri. Akhirnya Tatsuya memutuskan untuk kembali ke Jepang dan ia tidak akan kembali ke Paris sebelum ia bisa menghilangkan perasaannya pada Tara. Lambat laun, Tara dapat ceria kembali seperti biasanya dan sedikit melupakan Tatsuya. Namun tiba-tiba, ia dikagetkan dengan berita bahwa Tatsuya mengalami kecelakaan dan sedang kritis. Ia dan ayahnya diminta untuk datang ke Jepang menemui Tatsuya oleh ayah angkat Tatsuya. Saat di kamar rawat Tatsuya, Tara terus menggenggam jemari Tatsuya dan mengajaknya bicara. Namun tiba-tiba saja monitor penunjuk detak jantungnya menampakkan garis lurus dan berbunyi alarm nyaring, dokter pun segera berusaha menyelamatkan Tatsuya, namun gagal. Tatsuya pun meninggal dunia. Setelah kejadian itu, Tara berusaha mengatur hidupnya seperti sebelum ia bertemu Tatsuya, ia harus tetap ceria karena ia teringat ucapannya pada Tatsuya :
Jangan marah padaku kalau aku menangis....Hari ini saja....Kau boleh lihat sendiri nanti. Kau akan lihat tidak lama lagi aku akan kembali bekerja, tertawa, dan mengoceh seperti biasa....Aku janji...

“Seandainya masih ada harapan –sekecil apa pun- untuk mengubah kenyataan, saya bersedia menggantungkan seluruh hidup saya pada harapan itu.” –Tatsuya Fujisawa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar